VIVA – Terlepas dari segala kelebihan dan kekurangannya, sistem demokrasi yang berlaku di negeri ini patut disyukuri. Yang kurang dari sistem ini adalah perlunya perbaikan terus-menerus. Praktik politik yang menyimpang, tidak bermoral, atau melanggar aturan harus dikritisi.
Baca juga:
Dampak Ekonomi Peraturan Minyak Goreng dalam Kemasan: Keseimbangan Pasar dan Harga
Sementara itu, apa yang sudah berjalan dengan baik perlu terus ditingkatkan. Kritik adalah pupuk bagi perkembangan sistem apapun, termasuk sistem politik. Jika kritik dihalangi, sistem kehilangan kesempatan untuk memperbaiki diri.
Namun, kita tidak boleh terlalu terpaku pada detail pepohonan hingga melupakan luasnya hutan. Kita tidak boleh melupakan gambaran besarnya, kita hidup di negara yang relatif demokratis. Karena demokrasi inilah kita mendapat berkah luar biasa dari pemilu langsung yang dilakukan oleh rakyat. Terlepas dari segala kekurangannya, pemilu yang kita jalani saat ini kualitasnya jauh lebih baik dibandingkan pemilu Orde Baru sebelumnya.
Baca juga:
Tantangan geopolitik bagi presiden terpilih Indonesia Prabowo Subianto
Sebagaimana kita ketahui bersama, pemilu saat itu hanya sekedar “cap politik” bagi penguasa. Tidak lebih, tidak kurang. Jangan sampai kita melakukan kesalahan serupa pada pemilu kita hari ini. Jangan biarkan pemilu hanya menjadi stempel belaka. Namun, di sisi lain, harap melihat pemilu bukan sekedar pemilu, namun terpisah dari gambaran yang lebih besar.
Pemilu merupakan sarana atau sarana untuk mencapai tujuan al-maqshad al-a’dzam yang lebih besar: negara Indonesia yang majemuk yang mengayomi semua, memberikan keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat.
Baca juga:
Menghadapi Revolusi Society 5.0 dengan Kurikulum Merdeka Belajar
Bahkan mungkin banyak politisi yang terlibat dalam persaingan politik dan melupakan gambaran besarnya dalam mengejar tujuan kecil untuk meraih kekuasaan dengan cara apa pun. Bahasa pesantren: “al-ghayah tubarrir al-wasa’il”, tujuan menghalalkan segala cara. Ini adalah gerakan politik kecil. Perilaku politisi berkuasa seperti itu secara aneh dan ajaib diikuti oleh dukungan dari beberapa pendukung dan pemandu sorak politik.
Saat ini republik sedang dalam keadaan krisis. Kepentingan umum yang menjadi jiwa republik kita terabaikan demi kepentingan pribadi. Semangat republik telah memudar bahkan hilang di bawah kekuasaan pikiran-pikiran kecil. Dalam Our Democracy (1960), penyair Jerman Johann KF von Schiller (1759-1805) berkata, “Tetapi masa-masa indah telah bertemu dengan orang-orang kecil.” Diperkuat dengan sabda pendiri dan penggugat republik, Muhammad Hatta (1902-1980), “Pada abad itu telah lahir zaman yang besar”, apa yang ditakutkan Hatta pada masa lampau ternyata terbukti benar saat ini. Republik ini sebenarnya dijalankan oleh rakyat kecil.
Ketika berkuasa, bahkan di negara republik demokratis, orang kerdil tidak bisa menjadi pemimpin demokratis. Seperti pendapat Daniel Chirot (1994), ia menjadi seorang tiran modern. Dia bertindak bertentangan dengan impian para pendiri Republik.
Perhatikanlah wahai pemimpin kurcaci, cita-cita Sukarno, pendiri dan penggugat Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bahwa negara Indonesia merdeka didirikan berdasarkan asas kesetaraan bagi semua. Impian terbentuknya republik ini tersurat dengan jelas dalam pidato Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945: “Kami ingin membangun negara untuk semua orang. Bukan untuk satu orang, bukan untuk suatu kelompok, bukan untuk kaum bangsawan, bukan untuk golongan kaya, tapi untuk semua orang.”
Sangat disayangkan penyelenggaraan negara saat ini menyeret republik ini ke titik terendah. Kelakuan pemimpin kecil membunuh semangat Republik, mengkhianati warisan mulia pendirinya. Beliau mengubah republik untuk semua menjadi republik untuk kepentingan satu orang, satu kelompok dan satu keluarga. Sebuah republik yang rusak karena kekuasaan absolut bukanlah republik yang diimpikan oleh para pendirinya. Kekuasaan absolut menggunakan instrumen hukum sebagai izin untuk memelihara dan memelihara kekuasaan yang melayani kepentingan satu orang dan satu keluarga.
Politik pada dasarnya bersifat dinamis. Apa yang terjadi hari ini mungkin tidak akan sama lagi besok. Mereka yang memperlakukan politik sebagai benda padat dengan “keset” mudah merasa malu (malu) dan tersinggung. Para ahli mengatakan bahwa politik adalah seni dari segala kemungkinan. Namun, beberapa pemandu sorak dan pendukung kompetisi politik bahkan menganggapnya sebagai seni kepercayaan diri.
Padahal, sejak Republik berdiri, Hatta tidak membiarkan sedikit pun kemungkinan munculnya kekuasaan absolut dalam negara. Kekuasaan negara ditolak mentah-mentah. Hatta memilih republik berdasarkan hukum, sesuai dengan tafsir asli UUD 1945.
Dengan pemerintahan republik yang berdasarkan konstitusi, Hatta memahami bahaya kekuasaan yang dapat mengubah karakter manusia. Hal inilah yang menjadi keprihatinan Hajriyanto Y Tohari (2021): “Dia bahkan memahami psikologi orang-orang berkuasa. Kekuasaan itu terbukti mampu mengubah sikap dan karakter seseorang.” kekuasaan, berkolusi dan menjadi saudara”.
Kekhawatiran Hatta terbukti benar dalam penerapan republik saat ini, yang tidak memiliki supremasi negara, karena republik telah ditumbangkan hanya untuk melayani nepotisme kekuasaan. Melalui pendekatan kekuasaan yang absolut dan tanpa oposisi kritis, hukum dan hakim digunakan hanya untuk melayani kepentingan satu orang dan satu keluarga. Ini merupakan skandal keadilan terbesar dalam sejarah Republik Indonesia modern. Konstitusi telah dirobek-robek demi melayani nepotisme arogan penguasa. Republik yang mengutamakan kepentingan satu orang dan satu keluarga tidak layak lagi disebut Republik warisan pendirinya.
Republik berjalan tanpa kepentingan umum akhir-akhir ini. Padahal, sesuai amanat Bung Karno, republik ini harus didukung dengan pembangunan karakter bangsa. Keberhasilan bangsa Indonesia tidak hanya bergantung pada perkembangan lembaga-lembaga modern yang maju, namun juga berkaitan langsung dengan pengembangan nilai, moral, dan karakter masyarakat. Para pendiri Republik ini sadar betul bahwa keberhasilan Negara Kesatuan Republik Indonesia ditentukan oleh perilaku moral dan etika.
Para pendiri negara ini meninggalkan warisan penting bagi generasi sekarang, yaitu pandangan politik yang selalu mengutamakan kepentingan negara dan rakyat di atas segalanya. Hal ini mencerminkan kepicikan politik yang terlihat di beberapa kalangan saat ini. Generasi pendiri negara ini tidak mewarisi negara yang sejahtera secara materi. Namun, mereka mewarisi sikap dan perilaku yang patut diteladani. Warisan ini harus dilestarikan jika kita ingin tetap sehat sebagai sebuah bangsa.
Halaman selanjutnya
Sangat disayangkan penyelenggaraan negara saat ini menyeret republik ini ke titik terendah. Kelakuan pemimpin kecil membunuh semangat Republik, mengkhianati warisan mulia pendirinya. Beliau mengubah republik untuk semua menjadi republik untuk kepentingan satu orang, satu kelompok dan satu keluarga. Sebuah republik yang rusak karena kekuasaan absolut bukanlah republik yang diimpikan oleh para pendirinya. Kekuasaan absolut menggunakan instrumen hukum sebagai izin untuk memelihara dan memelihara kekuasaan yang melayani kepentingan satu orang dan satu keluarga.
Penafian: Artikel ini merupakan kiriman dari pengguna VIVA.co.id yang diposting di saluran VStory berdasarkan User Generated Content (UGC). Segala isi tulisan dan isi didalamnya adalah tanggung jawab penulis atau pengguna.